Biasanya
aku dipanggil Galih sama teman-teman SMP dan SMA. Bukan Galih dan Ratna yang
terkenal itu. Bukan. Dulu sih aku masih pemalu. Beda sama sekarang,
malu-maluin. Tapi, gak gitu juga sih. Kalau ciri-ciri ya, tinggi gak
tinggi-tinggi banget. Kalau senyum matanya bisa hilang. Muka juga gak ada yang
bilang ganteng, kok. Kalau kata mbak penjaga toko bakpia di Jogja sih katanya
aku manis. Bingung juga manisnya darimana. Kalau dari Bogor sih, manisan, ya.
Lahir tidak
jauh dari tempat kejadian Sangkuriang menendang perahunya. Mungkin aku
keturunan Sangkuriang. Aku lahir dengan sambutan Ibuku yang menangis haru.
Berharap anaknya kelak menjadi insan yang berguna. Amin.
Tapi,
sekarang sudah pandai berbohong. Sudah punya banyak alasan. Jauh dari harapan
ibuku dulu. Memang, seragam putih abu ini membuat aku yang berbeda. Mungkin
karena teman yang baru. Aku bukan lagi pemuda yang gila komputer. Aku sekarang
menjadi anak teknik. Berurusan dengan ragum dan benda-benda yang menurutku keren.
Setiap sore
aku selalu duduk di kursi sebelah jendela. Sembari menyalakan rokok dan
menyeruput seteguk kopi buatanku sendiri. Disitulah jurnalku berada. Ada juga
bunga edelweiss yang aku ambil diam-diam bersama temanku di Ciremai. Aku senang
duduk disitu. Memikirkan hal-hal yang aku ingin pikirkan. Kadang aku tulis
beberapa bait sastra di selembaran jurnal. Dari pikiran kritis hingga hal
mengenai kehidupan.
Suatu sore,
masih di bangku yang sama aku masih bisa berpikir. Kok, jurnalnya tidak ada hal
berbau asmara. Padahal, aku sering melakoninya. Langsung terbesit di pikiranku,
sebuah nama sebuah cerita. Satu nama berjuta cerita. Perempuan cantik nan
atraktif. Yang membuat aku lupa jati diri selama dua tahun lamanya.
**
Gea. Gea.
Dan Gea. Masih saja ada dipikiranku. Nama ini sarat dengan pengalaman asyik. Tapi,
kata temanku, aku bodoh. Apanya yang bodoh. Aku hanya menjalani apa yang Tuhan
berikan padaku. Mungkin dipinjam bukan diberi. Aku tidak pernah menyesali apa
yang telah terjadi. Anggap saja hanya gurauan semata.
Aku dan Gea
dulu satu sekolah, SMP Negeri 3 Bandung. Aku belum kenal dia. Apalagi dia. Katanya
sih anak baru pindahan dari Jakarta. Aku takut dia The Jak. Soalnya aku Bobotoh.
Tapi, mungkin takdir Tuhan. Aku dan Gea bisa kembali satu almamater di SMA.
Aku ingat
betul saat pertama kali bertemu dengan Gea. Aku mengobrol dengannya sembari
menggunakan helm. Hampir satu jam lamanya, helm tidak aku lepaskan. Seperti
lagunya Titi Kamal sang pedangdut itu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi, tidak menurut logikaku. Aku jauh dibelakangnya. Gea seperti dewa dan aku
hambanya. Terlalu sulit untuk aku bisa menggapainya.
“Eh, Galih
udah dulu ya, udah sore nih aku harus pulang.”
“Iya, gak
kerasa ya kalau ngobrol sama kamu. Aku juga mau pulang kok.”
Obrolan
penutup itu, meyakinkan aku. Aku tidak ada artinya bagi Gea. Ah, mungkin baru
pertama bertemu. Gea masih canggung ngobrol sama aku.
**
Setelah
pertemuan itu, setiap hari aku selalu ingat Gea. Sampai lupa makan dan minum.
Bagaimana tidak, Gea adalah wanita yang ideal menurutku. Aku terpikat dan
terikat olehnya. Hari-hari itu dipenuhi dengan khayalan senyuman Gea yang manis
dengan gigi behelnya yang menambah lucu. Ah, dia terlalu sempurna untuk
dijelaskan.
Ohiya,
semenjak obrolan itu. Aku sempatkan bertukar nomor. Dan dia setuju. Aku dan Gea
jadi sering berbalas pesan. Obrolannya sangat ringan. Mengisi waktu luangku
yang banyak. Gea bukan tipe yang kaku saat mengobrol. Dia senang tertawa. Aku
juga sering mentertawainya.
Aku semakin
terpikat olehnya. Dia seperti magnet, yang ditarik-tarik olehnya. Sempat aku
berpikir, bagaimana aku bisa menjadi magnet juga sepertinya. Agar dia juga bisa
tertarik padaku.
**
Sudah lebih
dari dua pekan. Gea, Gea dan Gea. Aku dan Gea berubah menjadi Kita. Kita sudah
menaiki level pertemanan. Teman Gea,
sudah menjadi temanku juga. Salah satunya Mia. Beda setahun diatas aku usianya.
Tapi, kalau lagi mengobrol, aku dan Mia sudah lupa usia. Aku jadi sering cerita
sama dia. Tentang Gea yang pasti. Mia sudah seperti konsultan jodohku pada saat
itu. Aku sering bertanya padanya, bagaimana dengan Gea.
“Mi, aku jatuh
cinta pada Gea.”
“ah, yang benar,
lih. Kamu yakin?”
“yakin
seribu persen, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.” Yakinku.
“Pandangan
pertama awal aku berjumpa…” Jawab dia sembari meniru gaya Titi Kamal.
“Yah, Mia
gak bisa di ajak kompromi nih”
“Hehe. Tapi
kok bisa, lih ?” tandasnya.
“Entah lah
mi, namanya perasaan mana ada yang tau”
“Emang kamu
udah sedekat apa sama Gea?”
“Belum
terlalu deket sih, mi. Makanya aku mau konsultasi dulu sama kamu”
“Kamu pikir
aku biro jodoh apa, lih?”
“Bukan
gitu, kamu kan salah satu teman dekatnya. Mungkin kamu banyak tau tentangnya”
“Yaudah,
kamu sekarang deketin dulu aja terus dia. Jangan terlalu cepat mengambil
keputusan”
Ada
benarnya juga Mia, aku belum terlalu dekat dengan Gea. Kita belum menjadi kutub
utara dan kutub selatan. Tapi, akhir-akhir ini notifikasi ku selalu dipenuhi
oleh Gea. Aku pikir, Gea sudah mulai merespon. Bahkan, terkadang Gea yang
selalu membuka obrolan.
Dan aku
ingat betul, Februari 2014. Sedang asyik dirumah. Tiba-tiba Gea menelfonku.
Jelas saja aku langsung angkat telfonnya.
“Assalamualaikum,
Galih”
“Eh, Gea
tumben nelfon.”
“Balas dulu
dong salamku”
“Walaikumsallam,
Gea. Ada apa ya?”
“Hehe. Galih
lagi sibuk ga?”
“Engga kok,
Ge. Lagi nyantai nih” balasku dengan semangat.
“Aku lagi
ingin es krim vanilla, lih. Tapi tadi aku cari-cari gak ada. Mau bantu aku ga?”
“Bantu apa
ge, boleh aja”
“Iya,
beliin aku es krim vanila dong. Anterin ke tempatku.”
“Aduh,
gimana ya, Ge.”
“Ah, Galih
katanya lagi santai. Masa gak mau bantu aku sih ?”
“Yaudah
deh, aku beliin. Es krim vanila kan, ya ?”
“Asyik,
Galih baik banget deh. Anterin ke sekolah ya. Cepet tapi ya, hehe”
“Iya, iya
tunggu”
Sebenarnya
aku bingung, mau senang atau sedih. Senang akhirnya Gea bisa ingat aku. Sedih,
sepertinya aku hanya dimanfaatkan olehnya. Tidak peduli juga. Memang dasar aku
ini terlalu baik. Padahal, dari rumahku menuju sekolah lumayan jauh. Butuh 20
menit untuk sampai.
Untung
motorku masih diluar. Tidak perlu repot membuka garasi. Aku relakan waktuku
demi Gea. Demi sepotong es krim vanila untuknya. Padahal aku juga ingin. Mau
beli dua tapi uangku tak cukup. Dan sulit juga mencari es krim vanila. Sudah
beberapa warung aku datangi hasilnya nihil. Akhirnya, aku dapat apa yang
diinginkan Gea. Aku antar langsung es krim vanila ini. Aku takutnya mencair.
Saat aku
memasuki gerbang sekolah. Aku bisa langsung melihat Gea sedang duduk di dekat
taman. Aku heran kemana teman-temannya. Sedang apa juga dia sekolah sendiri
sore-sore begini.
“Galih !”
teriak Gea dari kejauhan.
“Hey, Gea.
Nih, pesanan kamu. Langsung dimakan ya, nanti mencair”
“Ih, Galih.
Kamu baik banget sih. Aku jadi seneng.”
“Iyalah,
Ge. Aku kan emang baik. Tapi, bener ya itu es krimnya.”
“Iya, bener
kok. Padahal tadi aku bercanda. Aku tadi bingung lagi sendirian, jadi telfon
kamu deh.”
“Oh, gitu”
balasku bingung menjawab apa.
“Beneran
lah kamu beliin, baik banget sih.”
“Iya, habis
aku kira kamu serius. Yaudah aku beliin aja langsung.”
“Makasih ya
Galih, maaf aku jadi ngerepotin kamu.”
“Yaudah,
aku langsung pulang ya, Ge. Aku mau tiduran lagi.”
“Iya,
Galih. Hati-hati ya!”
Langsung aku
putar balik. Heran aku dibuatnya. Bingung apa yang ada dibenaknya. Bisa-bisanya
dia mengganggu waktu santai-ku. Tapi, aku senang kok. Setidaknya, aku bisa buat
Gea bahagia. Pikiranku jadi bertambah terhadap Gea. Kelakuannya membuat aku
geli. Tapi aku suka. Harapanku pada Gea juga meningkat. Aku orang pertama yang
ada dipikirannya, ketika dia kesepian.
Mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar