Jumat, 24 Juni 2016

Assalamualaikum, Galih.

Biasanya aku dipanggil Galih sama teman-teman SMP dan SMA. Bukan Galih dan Ratna yang terkenal itu. Bukan. Dulu sih aku masih pemalu. Beda sama sekarang, malu-maluin. Tapi, gak gitu juga sih. Kalau ciri-ciri ya, tinggi gak tinggi-tinggi banget. Kalau senyum matanya bisa hilang. Muka juga gak ada yang bilang ganteng, kok. Kalau kata mbak penjaga toko bakpia di Jogja sih katanya aku manis. Bingung juga manisnya darimana. Kalau dari Bogor sih, manisan, ya.
Lahir tidak jauh dari tempat kejadian Sangkuriang menendang perahunya. Mungkin aku keturunan Sangkuriang. Aku lahir dengan sambutan Ibuku yang menangis haru. Berharap anaknya kelak menjadi insan yang berguna. Amin.

Tapi, sekarang sudah pandai berbohong. Sudah punya banyak alasan. Jauh dari harapan ibuku dulu. Memang, seragam putih abu ini membuat aku yang berbeda. Mungkin karena teman yang baru. Aku bukan lagi pemuda yang gila komputer. Aku sekarang menjadi anak teknik. Berurusan dengan ragum dan benda-benda yang menurutku keren.

Setiap sore aku selalu duduk di kursi sebelah jendela. Sembari menyalakan rokok dan menyeruput seteguk kopi buatanku sendiri. Disitulah jurnalku berada. Ada juga bunga edelweiss yang aku ambil diam-diam bersama temanku di Ciremai. Aku senang duduk disitu. Memikirkan hal-hal yang aku ingin pikirkan. Kadang aku tulis beberapa bait sastra di selembaran jurnal. Dari pikiran kritis hingga hal mengenai kehidupan.

Suatu sore, masih di bangku yang sama aku masih bisa berpikir. Kok, jurnalnya tidak ada hal berbau asmara. Padahal, aku sering melakoninya. Langsung terbesit di pikiranku, sebuah nama sebuah cerita. Satu nama berjuta cerita. Perempuan cantik nan atraktif. Yang membuat aku lupa jati diri selama dua tahun lamanya.
**
Gea. Gea. Dan Gea. Masih saja ada dipikiranku. Nama ini sarat dengan pengalaman asyik. Tapi, kata temanku, aku bodoh. Apanya yang bodoh. Aku hanya menjalani apa yang Tuhan berikan padaku. Mungkin dipinjam bukan diberi. Aku tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi. Anggap saja hanya gurauan semata.

Aku dan Gea dulu satu sekolah, SMP Negeri 3 Bandung. Aku belum kenal dia. Apalagi dia. Katanya sih anak baru pindahan dari Jakarta. Aku takut dia The Jak. Soalnya aku Bobotoh. Tapi, mungkin takdir Tuhan. Aku dan Gea bisa kembali satu almamater di SMA.

Aku ingat betul saat pertama kali bertemu dengan Gea. Aku mengobrol dengannya sembari menggunakan helm. Hampir satu jam lamanya, helm tidak aku lepaskan. Seperti lagunya Titi Kamal sang pedangdut itu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi, tidak menurut logikaku. Aku jauh dibelakangnya. Gea seperti dewa dan aku hambanya. Terlalu sulit untuk aku bisa menggapainya.

“Eh, Galih udah dulu ya, udah sore nih aku harus pulang.”
“Iya, gak kerasa ya kalau ngobrol sama kamu. Aku juga mau pulang kok.”

Obrolan penutup itu, meyakinkan aku. Aku tidak ada artinya bagi Gea. Ah, mungkin baru pertama bertemu. Gea masih canggung ngobrol sama aku.

**

Setelah pertemuan itu, setiap hari aku selalu ingat Gea. Sampai lupa makan dan minum. Bagaimana tidak, Gea adalah wanita yang ideal menurutku. Aku terpikat dan terikat olehnya. Hari-hari itu dipenuhi dengan khayalan senyuman Gea yang manis dengan gigi behelnya yang menambah lucu. Ah, dia terlalu sempurna untuk dijelaskan.  

Ohiya, semenjak obrolan itu. Aku sempatkan bertukar nomor. Dan dia setuju. Aku dan Gea jadi sering berbalas pesan. Obrolannya sangat ringan. Mengisi waktu luangku yang banyak. Gea bukan tipe yang kaku saat mengobrol. Dia senang tertawa. Aku juga sering mentertawainya.
Aku semakin terpikat olehnya. Dia seperti magnet, yang ditarik-tarik olehnya. Sempat aku berpikir, bagaimana aku bisa menjadi magnet juga sepertinya. Agar dia juga bisa tertarik padaku.

**

Sudah lebih dari dua pekan. Gea, Gea dan Gea. Aku dan Gea berubah menjadi Kita. Kita sudah menaiki level pertemanan. Teman Gea, sudah menjadi temanku juga. Salah satunya Mia. Beda setahun diatas aku usianya. Tapi, kalau lagi mengobrol, aku dan Mia sudah lupa usia. Aku jadi sering cerita sama dia. Tentang Gea yang pasti. Mia sudah seperti konsultan jodohku pada saat itu. Aku sering bertanya padanya, bagaimana dengan Gea.

“Mi, aku jatuh cinta pada Gea.”
“ah, yang benar, lih. Kamu yakin?”
“yakin seribu persen, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.” Yakinku.
“Pandangan pertama awal aku berjumpa…” Jawab dia sembari meniru gaya Titi Kamal.
“Yah, Mia gak bisa di ajak kompromi nih”
“Hehe. Tapi kok bisa, lih ?” tandasnya.
“Entah lah mi, namanya perasaan mana ada yang tau”
“Emang kamu udah sedekat apa sama Gea?”
“Belum terlalu deket sih, mi. Makanya aku mau konsultasi dulu sama kamu”
“Kamu pikir aku biro jodoh apa, lih?”
“Bukan gitu, kamu kan salah satu teman dekatnya. Mungkin kamu banyak tau tentangnya”
“Yaudah, kamu sekarang deketin dulu aja terus dia. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan”

Ada benarnya juga Mia, aku belum terlalu dekat dengan Gea. Kita belum menjadi kutub utara dan kutub selatan. Tapi, akhir-akhir ini notifikasi ku selalu dipenuhi oleh Gea. Aku pikir, Gea sudah mulai merespon. Bahkan, terkadang Gea yang selalu membuka obrolan.

Dan aku ingat betul, Februari 2014. Sedang asyik dirumah. Tiba-tiba Gea menelfonku. Jelas saja aku langsung angkat telfonnya.

“Assalamualaikum, Galih”
“Eh, Gea tumben nelfon.”
“Balas dulu dong salamku”
“Walaikumsallam, Gea. Ada apa ya?”
“Hehe. Galih lagi sibuk ga?”
“Engga kok, Ge. Lagi nyantai nih” balasku dengan semangat.
“Aku lagi ingin es krim vanilla, lih. Tapi tadi aku cari-cari gak ada. Mau bantu aku ga?”
“Bantu apa ge, boleh aja”
“Iya, beliin aku es krim vanila dong. Anterin ke tempatku.”
“Aduh, gimana ya, Ge.”
“Ah, Galih katanya lagi santai. Masa gak mau bantu aku sih ?”
“Yaudah deh, aku beliin. Es krim vanila kan, ya ?”
“Asyik, Galih baik banget deh. Anterin ke sekolah ya. Cepet tapi ya, hehe”
“Iya, iya tunggu”

Sebenarnya aku bingung, mau senang atau sedih. Senang akhirnya Gea bisa ingat aku. Sedih, sepertinya aku hanya dimanfaatkan olehnya. Tidak peduli juga. Memang dasar aku ini terlalu baik. Padahal, dari rumahku menuju sekolah lumayan jauh. Butuh 20 menit untuk sampai.

Untung motorku masih diluar. Tidak perlu repot membuka garasi. Aku relakan waktuku demi Gea. Demi sepotong es krim vanila untuknya. Padahal aku juga ingin. Mau beli dua tapi uangku tak cukup. Dan sulit juga mencari es krim vanila. Sudah beberapa warung aku datangi hasilnya nihil. Akhirnya, aku dapat apa yang diinginkan Gea. Aku antar langsung es krim vanila ini. Aku takutnya mencair.
Saat aku memasuki gerbang sekolah. Aku bisa langsung melihat Gea sedang duduk di dekat taman. Aku heran kemana teman-temannya. Sedang apa juga dia sekolah sendiri sore-sore begini.

“Galih !” teriak Gea dari kejauhan.
“Hey, Gea. Nih, pesanan kamu. Langsung dimakan ya, nanti mencair”
“Ih, Galih. Kamu baik banget sih. Aku jadi seneng.”
“Iyalah, Ge. Aku kan emang baik. Tapi, bener ya itu es krimnya.”
“Iya, bener kok. Padahal tadi aku bercanda. Aku tadi bingung lagi sendirian, jadi telfon kamu deh.”
“Oh, gitu” balasku bingung menjawab apa.
“Beneran lah kamu beliin, baik banget sih.”
“Iya, habis aku kira kamu serius. Yaudah aku beliin aja langsung.”
“Makasih ya Galih, maaf aku jadi ngerepotin kamu.”
“Yaudah, aku langsung pulang ya, Ge. Aku mau tiduran lagi.”
“Iya, Galih. Hati-hati ya!”

Langsung aku putar balik. Heran aku dibuatnya. Bingung apa yang ada dibenaknya. Bisa-bisanya dia mengganggu waktu santai-ku. Tapi, aku senang kok. Setidaknya, aku bisa buat Gea bahagia. Pikiranku jadi bertambah terhadap Gea. Kelakuannya membuat aku geli. Tapi aku suka. Harapanku pada Gea juga meningkat. Aku orang pertama yang ada dipikirannya, ketika dia kesepian.


Mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar